Keselamatan & Kelepasan

Mengapa Engkau Mengirimku Ke Padang Gurun?

Oleh Cellia*

Bekasi, Juli 2015

Pengumuman SBMPTN dan Ujian Mandiri diumumkan. Hampir rata-rata teman-temanku diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diinginkan. Saat itu hanya aku sendiri yang tidak diterima di PTN. Sangat sedih mengucapkan selamat tinggal kepada impian dan jurusan yang diinginkan saat itu.

Akhirnya dengan berat hati harus melanjutkan di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan dengan jurusan yang tidak diinginkan pula. Aku tidak peduli akan kuliah walaupun seharusnya aku bersyukur masih bisa berkuliah.

“Tuhan, kenapa aku harus ke tempat ini?”

Sepertinya Tuhan hanya diam dan tidak mendengar umat-Nya ini. Ia seolah membiarkan apa yang terjadi kepadaku. Aku gagal di beberapa mata kuliah karena tidak bisa menguasainya. Sebagai orang yang memiliki kekurangan di bidang eksak namun “terpaksa” berkuliah di bidang eksak rasanya aku ini seperti “cari mati”. Perkuliahan yang kujalani rasanya seperti perjalanan di padang gurun. Melelahkan.

Keluhan demi keluhan kulontarkan kepada Tuhan. Mulai dari melihat teman yang melakukan kecurangan setiap ujian, teman kuliah yang menjatuhkan bahkan menjerumuskan, gagal di banyak mata kuliah hingga sampai di titik di mana aku ingin berhenti kuliah dan menyerah saja.

Hingga suatu hari, aku mencapai titik terendah selama berkuliah. Tepat saat itu, ada seorang teman mengajak ke acara conference oleh sebuah gereja di dekat kampus. Saat acara conference itu, ada satu ayat yang menyadarkanku bahwa saat kita berada di tempat yang tidak kita inginkan dan kita tidak mampu berbuat apa-apa, hanya Tuhan yang bisa kita andalkan.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. – 2 Korintus 12:9

Tuhan bisa saja memberikan jurusan dan perguruan tinggi yang aku inginkan saat itu, namun belum tentu menjamin bahwa apakah aku menjadi orang yang kuat dan lebih dewasa untuk diproses oleh-Nya. Tuhan bisa saja memberikan kemudahan, namun apakah itu menjadi jaminan bahwa aku akan semakin percaya dan mengandalkan Ia di saat susah maupun senang?

Penderitaan dan Proses-Nya

Waktu terus berjalan tanpa memberikan isyarat untuk berhenti. Sama seperti roda yang terus berputar kadang berada di atas dan kadang berada di bawah. Sakit, perih, dan berat. Perasaan itu awalnya sering kurasakan, aku pun menangis. Namun, lama-kelamaan aku menjadi kebal menghadapi apa yang di depan mataku: perkuliahan yang sebenarnya bukanlah dambaanku.

Melalui penderitaan, Tuhan mengujiku agar aku menjadi seorang pribadi yang lebih kuat dan mengandalkan-Nya di segala situasi. Sebagai orang yang cenderung terbiasa menggunakan rasio (logika) daripada perasaan, itu adalah hal yang sulit untuk berpasrah dan untuk percaya saja tanpa alasan. Namun, hal itu membuatku berproses untuk menjadi pribadi yang senantiasa mengandalkan Dia di setiap waktu.

“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13).

Dalam menjalankan perkuliahanku, aku disadarkan oleh Tuhan bahwa kuliahku sebenarnya bisa aku lalui, walaupun rumit. Namun, aku selalu lupa untuk berpegang teguh dan percaya kepada Tuhan. Aku disadarkan betul bahwa aku selalu mengandalkan kekuatanku sendiri bukan mengandalkan Dia. Melalui ketidakberdayaanku dan di kondisi serba mentok, aku mengubah doaku dari yang awalnya ingin cepat-cepat selesai saja dari perkuliahan menjadi supaya aku dimampukan menjalani setiap situasi selama aku berkuliah. Selain itu, aku belajar untuk memiliki pola pikir bahwa segala sesuatu itu tidak ada yang mustahil selama kita bersama Tuhan dengan cara kita semakin intim dengan Tuhan.

Aku percaya bahwa ketika kita ditempatkan di jurusan yang kita tidak bisa atau tidak suka bukan berarti itu adalah akhir dari hidup kita. Tuhan sudah merencanakan semuanya itu dan kita ditempatkan di sana untuk berkarya dan memuliakan nama-Nya seperti di yang Paulus tuliskan dalam Kolose 3:23, “Pekerjaan apa saja yang diberikan kepadamu, hendaklah kalian mengerjakannya dengan sepenuh hati, seolah-olah Tuhanlah yang kalian layani, dan bukan hanya manusia” (versi BIMK).

Pada akhirnya juga, semua yang kita kerjakan adalah bentuk pelayanan kita di dunia untuk memuliakan nama Tuhan termasuk berkuliah. Memang kuliahnya bukan di jurusan yang kita tidak inginkan dan kita sukai tapi tetap jalankan itu, seperti kata salah seorang teman saya “semua orang berhak memiliki pendidikan yang layak, namun tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan itu”

Pada akhirnya, syukur kuucapkan

Sepanjang masa-masa kuliahku, Tuhan tak hanya menunjukkan kuasa-Nya. Dia juga menunjukkan kesetiaan-Nya bagiku dan tak pernah meninggalkanku. Ketika kita menjadi pengikut Kristus, itu bukan berarti hidup kita akan terbebas dari penderitaan dan pencobaan. Kedua hal itu dapat dipakai Tuhan untuk membentuk kita, seperti seorang penjunan yang membentuk bejana. Tuhan tak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Dia tahu sampai mana batas kekuatan kita. Kasih setia-Nyalah yang memampukan kita melewati penderitaan dan membuat kita menjadi seorang yang lebih baik.

Sekarang sudah 5 tahun berlalu, sangat bersyukur kuucapkan kepada Tuhan atas proses yang Dia berikan kepadaku, untuk dilalui saat itu. Mengalami gagal, sedih, penderitaan adalah hal yang wajar sebagai manusia namun Tuhan menjadikan hal itu menjadi sesuatu yang menguatkanku untuk tetap hidup di saat seperti ini. Oleh kegagalan inilah aku belajar untuk menghargai proses dan senantiasa mengandalkan Dia.

Kegagalan bukan berarti hidup kita berakhir di titik itu saja, kita masih hidup sampai saat ini dan kehidupan akan terus berjalan. Menangis, kesal, merasa tidak berdaya adalah reaksi yang wajar bila kita mengalami kegagalan, namun jangan sampai kita terus-terusan dihantui perasaan itu. Percayalah ini semua adalah atas izin Tuhan, kita sebagai ciptaan-Nya tetap percaya saja pada-Nya karena Dialah Sang Sumber Pemelihara Kehidupan dan masa depan sudah disiapkan oleh-Nya.

*bukan nama yang sebenarnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *