Berkat Keuangan

Pertolongan Tuhan dalam Keuangan

Shalom, saya membagikan kesaksian. Kejadian ini berawal sejak usaha grosir tas saya berhenti total karena saingan banyak. Ditambah usaha toko suami sedang tidak bisa berjalan. Biaya hidup yang terlanjur tinggi +/- 20 juta per bulan mulai mencekikku, sampai aku harus gadaikan mobil pemberian orangtuaku. Mereka bukan orang yang tidak punya, tapi saya bukan orang yang berani mengakui kegagalan, karena saat itu uang cash orangtua juga untuk bangun rumah semua. Saat itu saya sudah kenal Tuhan Yesus, saya sudah cinta Dia, hampir tiap hari ada jadwal ibadah, FA, doa malam, doa puasa, dsb. Tapi saat itu saya menyerah pada keadaan, saya berseru Yesus Yesus tapi saya tidak pernah buka hatiku. Justru sebaliknya saya simpan kemarahan pada keadaan, kenapa orangtuaku tidak kasih saya uang, kenapa suamiku juga belum bisa menyokongku. Kepahitan itu membuat saya semakin jauh dari kasih Yesus. Saya terbelit banyak hutang, uang hutang saya pakai buat traktir teman-teman. Saya datang FA dan berseru sama Yesus, but, I can’t find His love because I’m not opening my heart (tapi, saya tidak dapat menemukan kasih-Nya karena saya tidak membuka hati saya).

Bulan Oktober tekanan itu makin kuat, himpitan ekonomi ditambah dengan kondisi kemarahanku, membuat keluargaku hampir hancur. Suamiku pergi ke rumah kakaknya di Jakarta, saya dan orangtua saya pun menjaga jarak. Saat itu saya sudah tidak tahu lagi harus membayar hutang-hutang yang mencapai ratusan juta. Uang di atm sisa 36 rupiah, hingga hari ini harus makan apa pun bingung. Untung uang sekolah anak sudah terbayar 3 bulan. Saat itu saya merasakan kuasa Tuhan. Yesus kasih-Nya begitu sempurna. Dia beri saya kekuatan untuk bangkit. Dia ubah semua sel-sel di otakku. Dari yang selalu sakit, kepahitan, mengasihani diri, menjadi terbuka sedikit demi sedikit. Saya mulai bersyukur meskipun hanya makan mie instant di rumah (saat itu saya sedang hamil muda). Saat suami selalu  menyalahkan saya atas semua hutang, awalnya saya tidak terima, tapi Tuhan Yesus membuat saya cepat melepaskan beban itu kepada-Nya, sehingga tidak berujung kepahitan. Hubunganku dengan orangtua perlahan mulai saya perbaiki. Tapi saya belum bisa mengakui semua hutang. Sampai suamiku pulang Surabaya di bulan Desember. Keadaaan ekonomi masih hancur lebur, ditambah  judgement (penghakiman) suami, tapi saat itu respon saya telah berubah. Suara Yesus terus bergema di hati. Lepaskan, jangan marah, jangan kasihani dirimu.

Hari demi hari saya lalui dengan hanya bersandar kepada Yesus. Terlebih semua hutang yang menghimpit saya, hutang gadai mobil, hutang supplier tas, hutang kartu kredit. Secara manusia saya sudah menyerah. Tapi Yesus tidak pernah berhenti. Selalu ada kekuatan baru untuk menghadapi hari demi hari. Bulan Januari, rumah mewah yang dibangunkan orangtua sudah siap pakai. Saya dulu begitu kepahitan dengan rumah ini, karena orangtua menggunakan semua uang yang dimiliki untuk membangun rumah tanpa memberi saya bantuan sedikitpun. Saya dulu berjanji tidak akan pindah ke rumah baru. Tapi saat Yesus bekerja di dalam hati, Dia yang memperbaiki seluruh sel-sel otak saya 24 jam per hari, ada tuntunan untuk selalu berpikir positif. Saya berusaha terus memberikan respon yang tepat untuk tiap masalah.

Bulan Februari, suami saya mempunyai ide untuk buka rumah makan dimsum di rumah kami yang baru. Saat itu saaya meminta modal kecil ke orangtua. Dan saya percaya Tuhan Yesus karena kasih karunia-Nya telah menyelamatkan hidupku, Dia ampuni dosaku, karena tiap respon yang saya punya saya tahu itu campur tangan Yesus. Dimsum yang dibuka dan dipersiapkan dalam waktu 10 hari, dengan modal yang sangat minim, mampu memberikan hasil yang sangat besar tanpa merintis. Bulan pertama sampai ketiga luar Biasa Yesus berkarya.

Tapi pergumulan saya tidak berhenti sampai disini. Setiap hari saya menangis bersyukur, karena hasil berjualan makanan yang luar biasa. Namun, hambatan hutang-hutang yang harus saya cicil juga besar. Hutang cicilan mobil sebesar 7 juta/ bulan, belum cicilan lain-lain. Saya terus bergumul. Apa yang harus saya lakukan. Apabila seperti ini bekerja untuk bayar hutang. Ternyata Yesus menunjukkan Kasih-NYA. Dia tidak membiarkan saya bergumul sendirian. Suatu hari, karena terlambat untuk membayar, tiba tiba mobilku disita. Tanpa saya tahu, mobil dipaksa dibawa ke kantor bersama mama saya yang saat itu sedang memakai mobil tersebut. Saat itu rasanya langit runtuh. Bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan kepada orang tua. Pasti mereka marah besar. Saya berdoa meminta mujizat, sebagai manusia, tentu saya minta mobil itu kembali, entah Tuhan Yesus mengirimkan orang yang bisa membayar pelunasan dan bisa saya cicil dengan harga yang lebih rendah atau bagaimana. Selama dua hari saya puasa, karena memang saya sedang dalam kondisi labil. Ditambah reaksi awal mama saya yang belum memberikan dukungan. Saya memperbanyak jam doaku, jam 9 pagi-12 siang-3sore-6 sore-9 malam. Saya menangis, saya mengaku dosa, saya minta ampun.

Suatu hari saat saya datang ke Persekutuan Doa (hari ke-4 setelah mobil saya disita), seorang Pendeta bernubuat mengatakan, “anak-ku doamu tidak akan sia-sia.” Saya mendapatkan ayat Matius 21:22, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” Berpegang pada ayat itu, saya menangis, saya merasa Tuhan Yesus begitu baik kepada saya, saya tetap diberi janji-janji-NYA. Terus saya berdoa agar mobilku bisa kembali. Sehingga saya tidak perlu menghadapi lagi reaksi orang-orang terdekatku. Seminggu berlalu, beberapa kali suamiku dan mamaku bertanya bagimana mobilnya, saya bilang saya sedang menunggu proses. Padahal saya tidak melakukan apa-apa, karena memang tidak ada yang bisa saya lakukan. Setiap kali saya lelah, saya membaca Firman Tuhan yang menguatkan, saya membaca kesaksian-kesaksian bahwa mujizat masih terjadi.

Sampai pada hari sabtu (hampir 2 minggu setelah terjadi sita jaminan), mamaku yang kepikiran masalah ini datang ke kantor leasing menanyakan jumlah pasti sisa pelunasan. Dan dia mengajukan tawaran untuk melunasi, karena dia sayang mobil itu. Waktu dia pulang dan bilang ke saya, saya menjelaskan bahwa kalau leasing itu dilunasi justru akan mendapatkan harga tinggi, karena kita harus membayar penalti ditambah bunga, dsbnya. Sedangkan kita dipaksa beli mobil kita sendiri jauh dari harga pasaran. Saya bilang kalau mama harus relakan mobil itu. Anggap kita tidak bisa membayarnya. Ternyata mama bisa mengerti, saat saya menceritakan kronologis mengapa saya sampai mengambil keputusan nekat. Sungguh di luar dugaan mama memberikan reaksi positif, hanya saja saya belum berani berterus terang dengan papa. Saya bilang masih menunggu waktu. Tapi secara diam-diam, mama meneruskan pesan ke papa. Sungguh di luar dugaan, reaksi papa juga sangat positif. Yang sejak awal ketakutan saya sudah sangat besar, kehilangan mobil dan reaksi orangtua, ternyata Tuhan Yesus memberikan penyelesaian dalam satu hari. Mujizat itu nyata, bukan Tuhan Yesus mengirimkan uang untuk saya bisa kembalikan mobil itu, tapi Tuhan Yesus selesaikan hutangku dengan dukungan orang-orang terdekat. Malam ini, saya bisa tidur nyenyak, karena saya sudah berjanji pada diri sendiri, tiap langkah saya akan meminta izin Yesus membimbingku.

Kesaksian ini menceritakan tentang bagaimana Karya Tuhan Yesus dan kasih-Nya sungguh tidak pernah habis dalam hidup saya, bahkan dalam menanggung tanggung jawab yang seharusnya menjadi tanggung jawab saya, Tuhan Yesus tetap buat segalanya mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *