Kesehatan & Kesembuhan

Ketika Aku Sakit Bukan Berarti Tuhan Tidak Mengasihiku

Satu pertanyaan muncul dalam suatu kelompok tumbuh bersama, “Apa yang paling kamu syukuri sepanjang hidupmu?” Jawaban dari teman-temanku adalah penyertaan Tuhan, keluarga, maupun komunitas. Saat itu aku menjawab, kesehatan. Ya. Aku merasakan bahwa Tuhan begitu mengasihiku dengan menganugerahkanku kesehatan yang sangat baik. Mungkin hanya setahun sekali aku demam. Hampir tidak pernah aku tidak masuk sekolah atau bekerja karena sakit.

Namun, beberapa waktu setelahnya, aku mengalami sakit di bagian ulu hati. Biasanya aku merasakannya hanya sebentar tetapi kali ini berbeda, sakitnya masih bisa kurasakan selama dua hari berturut-turut. Di hari kedua itu, aku merasa ada yang aneh pada tubuhku. Bangun tidur, sebelah mataku bengkak, begitu pun leher. Siang hari di tempat kerja, aku melihat kakiku sepertinya bengkak tetapi aku tidak benar-benar yakin karena aku memakai celana panjang dan sepatu kets, dan tidak berniat memeriksanya. Sore hari, aku bersama teman mencoba menimbang berat badan ternyata berat badanku naik 5 kg. Aku senang sekali karena akhirnya aku gemuk, tapi setibanya di rumah setelah pulang kerja, aku berganti pakaian dan aku melihat ternyata kakiku bengkak seluruhnya. Ketika aku bercermin, mata dan leherku masih bengkak dan bertambah di bagian dahi.

Aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter, lalu dokter merujukku ke rumah sakit. Aku didiagnosis mengalami Sindrom Nefrotik (ginjal bocor). Aku harus menjalani proses pemeriksaan berkelanjutan dengan seluruh bagian tubuh yang semakin membengkak. Kondisi ini tidak mudah bagiku, terlebih saat itu aku berada di tanah rantau. Aku kemudian memutuskan kembali ke kota asal untuk dirawat di sana oleh keluarga.

Hampir saja aku kecewa karena Tuhan memberiku penyakit, tetapi aku masih memiliki keyakinan bahwa Tuhan pasti tetap mengasihiku dan ingin mengajarkanku sesuatu melalui penyakit ini. Inilah yang tetap kulakukan dan kupelajari selama masa-masa sakitku:

1. Tetap belajar bersyukur
Waktu aku sehat aku yakin Tuhan mengasihiku karena Dia mengaruniakan kesehatan, tapi waktu aku sakit aku juga sangat yakin Tuhan mengasihiku, meskipun sakit yang kualami terasa seperti teguran. Aku tetap berusaha bersyukur, karena aku percaya bahwa Tuhan itu baik dan Dia tentu punya rencana yang baik pula di balik sakit yang kualami.


2. Belajar mengandalkan Tuhan
Waktu aku sehat, fisikku kuat, aku bisa melakukan banyak hal. Pertanyaannya, apakah aku sering mengandalkan kekuatanku sendiri untuk banyak hal itu? Jawabannya ya. Waktu aku sakit, aku tidak bisa melakukan banyak hal. Aku melihat diriku lemah, jalan saja susah, terbatas beraktivitas, bisakah aku mengandalkan kekuatanku sendiri? Tentu tidak. Aku membutuhkan orang lain dalam banyak hal. Aku menyadari bahwa sesungguhnya aku hanya ciptaan yang terbatas dan lemah, tetapi aku punya Pencipta yang begitu kuat dan luar biasa. Kekuatanku itu semata-mata hanya karena kasih anugerah-Nya sehingga aku dan kita semua ada sampai saat ini. Maka sesungguhnya kita selalu membutuhkan Tuhan dalam tiap aspek kehidupan dan tiap waktu. Aku belajar lebih berserah pada Tuhan dalam kondisi apapun itu.


3. Belajar melayani sesama
Waktu aku sakit, begitu mudahnya aku mendapat pertolongan, doa dan dukungan di tengah kesulitan yang kualami selama sakit. Itu juga merupakan bukti bahwa Tuhan begitu mengasihiku. Ia mengizinkan aku merasa sesuatu yang tidak enak menurutku tetapi Dia juga menyediakan pertolongan melalui orang-orang di sekitar. Mereka berdoa bersamaku, menguatkan dan memberi semangat kepadaku, bahkan membantu menyiapkan makananku hingga mengantarku bolak-balik ke rumah sakit. Sekarang pertanyaannya adalah sudahkah aku juga memberi diri untuk melayani dan menolong sesama dengan setia?

Rasul Paulus jelas mengingatkan kita semua tentang kasih Kristus dalam Efesus 3 : 18-19 (TB) “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

Bagian ini merupakan rangkaian dari bagian doa Rasul Paulus bagi orang-orang percaya di Efesus. Apa yang menjadi permohonan Paulus bagi jemaat di Efesus adalah bukan supaya kehidupan jemaat bertumbuh dalam hal kuantitas, mereka yang hidup dalam kemiskinan menjadi bergelimpang harta, mereka yang sakit mendapatkan kesembuhan, melainkan bagaimana jemaat bertumbuh dalam memahami dan memiliki pengenalan akan kasih Kristus. Harapan Paulus dalam doanya adalah supaya jemaat di Efesus bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami kasih Kristus.

Paulus menggambarkan kasih Kristus itu betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Kasih Kristus adalah kasih yang tiada tara, yang sulit dipahami oleh akal pikiran manusia yang terbatas. Namun frasa “sulit dipahami” itu bukan berarti bahwa orang percaya seharusnya berhenti saja untuk belajar memahami dan mengenal-Nya. Paulus juga memohonkan kepada Allah supaya jemaat di Efesus dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Paulus rindu mereka hidup dalam kasih kepada Kristus Yesus dan kasih kepada sesama, sebagai orang yang telah diselamatkan dan sebagai tubuh Kristus.

Inilah juga yang seharusnya menjadi konten dan semangat yang seharusnya hidup dalam kehidupan setiap orang kudus di segala abad dan tempat. Tidak jarang kita memohonkan kepada Allah tentang bagaimana kita sembuh dari sakit penyakit, bagaimana supaya keuangan kita bertambah, karir lancar atau meningkat dan lain-lain. Adakah permohonan kita kepada Allah tentang bagaimana kita bertambah teguh dalam iman, memahami, mengenal dan menghidupi kasih Allah dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan keseharian sehingga hidup yang kita jalani adalah hidup yang benar dan yang memuliakan nama Tuhan.

Sesungguhnya kehidupan selama masa pemulihan sangatlah sulit bagiku. Selain melakukan rawat jalan dengan cek urin dan darah setiap dua minggu, aku harus mengonsumsi banyak obat dan mengubah pola makan. Aku benar-benar tak menyukainya tapi aku belajar taat. Setiap hari juga aku berdoa bukan hanya untuk kesembuhan tapi untuk terus bertambah teguh dalam iman kepada Kristus seperti yang Paulus ingatkan. Puji Tuhan setelah empat bulan berlalu, aku sembuh total. Aku bersyukur atas perkenanan Tuhan memberiku kesembuhan meskipun akhirnya Tuhan izinkan aku tidak bekerja lagi demi kesehatanku yang lebih baik.

Tuhan mengubahku menjadi pribadi yang berbeda setelah melalui penyakit ini. Aku menjadi pribadi yang selalu mencari Tuhan lebih dahulu dalam menghadapi pergumulan apapun sehingga aku lebih kuat menghadapinya dan percaya segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Kehidupan doa dan saat teduh menjadi bagian yang kunikmati setiap hari. Tuhan juga menanamkan panggilan untuk terus melayani orang-orang di sekitarku meski hanya melalui hal kecil yang bisa kulakukan seperti menjadi pendengar dan mendoakan sesama yang sedang bergumul, serta memberi kesaksian bagaimana Tuhan bekerja dalam hidupku melalui komunitas maupun media sosial.

Kiranya kasih Kristus selalu memampukanku dan kita semua untuk bersyukur, mengandalkan Tuhan, serta melayani Tuhan dan sesama dengan setia.

To God be the glory.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *