History

Alkitab : di Indonesia

Umat Kristiani terdahulu saat berada di Indonesia sudah mempunyai Alkitab, tetapi Alkitab tersebut tidak dapat dipahami dan dimengerti oleh penduduk pada saat itu. Bahkan warga Portugis yang berada di Indonesia tepatnya sebelum warga Belanda, yang pada waktu itu belum memiliki Alkitab secara lengkap dalam bahasa mereka sendiri. Bahkan pada masa itu kitab perjanjian baru belum ada dalam bahasa Portugis.

Ada seorang anak bernama Jodo Ferreira D’Almeida  pergi meninggalkan tanah airnya yaitu Portugis. Pada saat itu ia masih berusia 14 tahun, saat tinggal di Malaka ia berkata bahwa ia pecaya kepada Tuhan Yesus. Dua tahun setelah itu pada tahun 1644 ia mulai menterjemahkan Kitab Perjanjian Baru. Kemudian pada tahun 1651 D’Almeida merantau ke Jakarta untuk melayani kerohanian anak buah kapal-kapal yang sedang berlabuh, dan juga mengginjili pekerja-pekerja yang berbahasa Portugis. D’Almeida pun menerusakan pekerjaannya sebagai penterjemah Firman Tuhan.

Perjanjian Baru dalam bahasa Portugis hasil karya terjemahannya telah selesai pada tahun 1654, pada waktu itu Almeida berusia 26 tahun. Dari 1654 hingga tahun 1663 Almeida menjadi pendeta di Sri Langka dan India, lalu ia kembali ke Jakarta, dan selama sisa hidupnya ia mengembalakan sidang jemaat yang berbahasa portugis di tempat itu. Terjemahannya berkali-kali dikoreksi dan dicetak di Belanda pada tahun 1681. Sebelum kematiannya pada tahun 1691, D’Almeida menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama. Hingga pada Yehezkiel 48:21 D’Almeida tutup usia, kemudian dilanjutkan oleh orang-orang lain yang menyempurnakan terjemahannya yang baru dicetak setengah abad kemudian. Sampai saat ini Alkitab D’Almeida (dengan banyak revisi) masih tetap digunakan oleh umat Kristen di negeri Portugis dan negeri Brasilia. Akan tetapi di Indonesia pada tiga abad yang lalu bahasa Portugis semakin lama semakin kurang digunakan. Yang telah menjadi  bahasa perdagangan diseluruh kepulauan dan juga disemanjung benua Asia yang menonjol dekat pulau Sumatera adalah bahasa Melayu.

Sepanjang sejarah terjemahan Firman Allah ke dalam bahasa Melayu, nama-nama yang dijunjung tinggi adalah nama-nama orang Belanda, orang Inggris, dan orang Jerman. Albert Corneliz Ruyl berlayar dari Belanda pada tahun 1600. Sebagai seorang pedagang pembantu, ia banyak berkesempatan belajar bahasa Melayu dan sebagai seorang Kristen ia menggunakan pengetahuannya untuk mulai menterjemahkan Firman Allah. Pada tahun 1612 Ruyl telah menterjemah injil Matius dan hasil karyanya diterbitkan 17 tahun kemudian. Menurut catatan Lembaga Alkitab Inggris dan luar Negeri, edisi ini mungkin sekali menandakan pertama kali dalam sejarah bahwa sebuah kitab dari Alkitab diterjemahkan dan dicetak dalam sebuah bahasa yang bukan bahasa Eropa, khusus sebagi alat pengabaran Injil.

Ruyl juga menterjemahkan Kitab Injil Markus yang dicetak di Belanda pada tahun 1638. Lalu pada tahun 1651 terbitlah keempat Kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Disamping karya Ruyl, sisanya dikerjakan dan direvisi oleh Jan van Hasel, seorang pengurus kompeni, dan Justus Heurnius seorang pendeta di Jakarta.

Doa Bapa Kami (dari Matius 6:9-13) terjemahan A.C.Ruyl (1612, 1629, 1651) yang berbunyi:
‘’Bappa kita, jang berdudok kadalam surge:
bermumin menjadi akan namma-Mu.
Radjat-Mu mendatang,
kehendak-Mu menjadi
di atas bumi seperti di dalam surga.
Berila kita makannanku sedekala hari.
Makka ber-ampunla pada-kita doosa kita,
Seperti kita ber-ampun akan siapa ber-sala kepada kita.
D’jang-an hentar kita kepada setana seitan,
Tetapi muhoon-la kita dari pada iblis.”

Teman sekerja Ruyl, yaitu Van Hasel dan Heurnius juga menerbitkan Kitab Mazmur dalam bahasa Melayu pada tahun 1652. Dan sepuluh tahun setelahnya muncullah sebuah nama baru dalam sejarah terjemahan Alkitab: Ds. Daniel Brouwenrius yang merupakan seorang pendeta di Belanda yang kemudian pindah ke Indonesia. Pada mulanya ia berpendapat bahwa tugas dari seorang penerjemah sebagiknya dimulai dengan Kitab pertama: Pada tahun 1662 terbitlah Kitab  Kejadian hasil karyanya. Lalu ia mengalihkan perhatiannya kepada tulisan-tulisan yang lebih langsung memberitakan Injil Kristus.

Albert Corneliz Ruyl merupakan penterjemah seluruh Kitab Firman Allah ke dalam bahasa Melayu, dan Daniel Brouwerius juga merupakan penerjemah seluruh Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu.

Doa bapa Kami dalam terjemahan D. Brouwerius (1668) berbunyi sebagai berikut:

“Bappa cami, jang adda de Surga,
Namma-mou jaddi bersacti.
Radjat-mou datang.
Candati-mou jaddi
bagitou de boumi bagimanna de surga.
Roti cami derri sa hari hari bri hari ini pada cami.
Lagi ampon doosa cami,
bagaimanna cami ampon capada orang jang salla pada cami.
Lagi jangan antarken cami de dalam tsjobahan,
hanja lepasken cami derri jang djahat.”

Mungkin kita tidak merasa heran bahwa terjemahan-terjemahan tadi tak lama dapat memuaskan umat Kristen di bumi Indonesia. menjelang akhir abad ke17, sudah ada suara-suara yang menuntut agar ada usaha baru untuk menyalin Firman Allah ke dalam kata-kata yang tidak merupakan teka-teki untuk pembaca bahasa Melayu. Usaha baru itu dibebankan kepada salah seorang yang paling terkenal dalam sejarah terjemahan Alkitab: Dr. Melchior Leydekker.

Leydekker dilahirkan di Amsterdam pada tahun 1645. Ia dididik dengan seksama, baik di bidang kedokteran maupun di bidang theologia. Pada tahun 1675 ia pindah ke bumi Indonesia, di mana ia menjadi seorang pendeta tentara di Jawa Timur. Dari tahun 1678 sampai wafatnya, ia tinggal di Jakarta, sebagai gembala sidang jemaat yang berbahasa Melayu.

Pada tahun 1691 majelis gereja di Jakarta minta supaya Dr. Leydekker mengerjakan sebuah terjemahan baru dari seluruh Alkitab. ia menerima tugas yang berat itu, dan segera mulai bekerja. Dengan tekun dan teliti ia menyelidiki bahasa-bahasa asli, serta mencari istilah-istilah bahasa Melayu yang paling tepat.

Sembilan puluh persen lebih dari karyanya itu sudah selesai pada tanggal 16 Maret 1701, yaitu pada saat ia dipanggil Tuhan. Mungkin tidaklah kebetulan bahwa ayat penghabisan yang sempat dialihbahasakan oleh Melchior Leydekker adalah
Efesus 6:6, yang menganjurkan agar hamba Kristus sebaiknya jangan hanya bekerja di hadapan umum “untuk menyenangkan hati orang,” melainkan juga “dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.”

Ds. Pieter van der Vorm, seorang pendeta lainnya di Jakarta, ditugasi untuk menyempurnakan hasil karya almarhum Dr. Leydekker. Dalam bulan Oktober dari tahun yang sama, selesailah Alkitab lengkap yang pertama-tama dalam bahasa Melayu. Akan tetapi Firman Allah dalam bahasa manusia itu kemudian disimpan selama 22 tahun di dalam sebuah lemari milik majelis gereja di Jakarta. Mengapa ada perbuatan yang begitu aneh?

Terjemahan yang Manakah?

Biang keladinya adalah seorang pendeta Belanda lain lagi, yaitu Ds. Francois Valentyn. Pada umur 20 tahun ia telah mulai melayani di daerah Maluku. Menurut kesaksiannya sendiri, ia sudah sanggup berkhotbah dalam bahasa Melayu setelah hanya tiga bulan belajar. selama masa kerjanya dibumi Indonesia (1685-1695, 1705-1713), Velentyn memang banyak mengharapkan bahasa dan budaya setempat, serta mengarang buku-buku kesarjanaan berdasarkan penyelidikannya itu. Tetapi apakah hal itu menolong menyebarluaskan Firman Tuhan di Nusantara? Mari kita lihat.

Valentyn melawan penerbit Alkitab Leydekker, karena (katanya) terjemahan itu memakai “bahasa Melayu Tinggi,” bukan “bahasa Melayu Rendah” yang sungguh dapat dipahami oleh khalayak ramai. Sebagai penggantinya, Valentyn menawarkan terjemahannya sendiri, yang (katanya) mencerminkan bahasa sehari-hari yang dipakai di Melayu.

Banyak orang, baik di sini maupun di Belanda, yang terbujuk oleh Valentyn. Tetapi ada juga banyak orang yang mai memperjuangkan hasil karya Leydekker. Sebagai akibat, kedua-duanya tidak mendapat cukup banyak sokongan untuk jadi diterbitkan. Dan siapa yang kalah dalam pertandingan itu? Umat manusia, karena Firman Allah tidak sampai-sampai ke dalam tangan mereka.

Akhirnya tuntutan Valentyn ditolak, terutama oleh karena dua hal:

  1. Yang ia namakan “bahasa Melayu Rendah” sebenarnya merupakan “bahasa Melayu Maluku,” yang sulit dibaca oleh orang dari daerah lain.
  2. Yang ia namakan “terjemahannya sendiri,” sebenarnya merupakan hasil karya orang lain.

Ds. Simon di Larges telah meninggal di Banda pada tahun 1677. (Waktu itu Francois Valentyn masih seorang bocah Belanda yang baru berumur sebelas tahun.) Jandanya menyerahkan suatu naskah peninggalan almarhum suaminya, kepada Ds. Jacobus du Bois. Du Bois kebetulan sedang menginap di rumah Francois Valentyn di Ambon, menjelang ajalnya dalam tahun 1687. Naskah tebal itu diwariskannya kepada tuan rumahnya. Dan itulah terjemahan yang (menurut Valentyn) telah dikerjakannya sendiri!.

Setelah persoalan Valentyn diatasi (“terjemahannya” itu tak pernah jadi dicetak, dan bahkan naskahnya hilang tak berbekas), masih ada pendapat bahwa terjemahan Leydekker perlu direvisi. Pada tahun 1723 sebuah panitia khusus diangkat untuk tugas itu. Anggota-anggotanya adalah Ds. Pieter van der Vorm (yang 22 tahun sebelumnya telah menyambung pekerjaan Leydekker), George Henric Werndly dari Makasar, Engelbertus Cornelius Ninaber dari Ambon, dan Arnoldus Brants dari Jakarta. Mereka pun dibantu oleh sarjana-sarjana bahasa Melayu (yang, menurut kebiasaaan zaman penjajahan, tidak disebut nama-namanya).

Terjemahan Leydekker diteliti kembali menurut bahasa-bahasa asli Alkitab. Versi itu pun dibandingkan dengan Kitab Suci dalam bahasa-bahasa Arab, Siriak, Latin, Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, dan Spanyol. Pada bulan September 1729, selesailah peredaksian itu.

Terjemahan baru dari Alkitab lengkap itu dua kali ditulis dengan tangan: sekali dalam huruf latin, sekali dalam huruf Arab. Kedua naskah itu dikirim ke Belanda dalam dua kapal yang berbeda: Jangan sampai kedua-duanya hilang di dasar laut! Salah seorang redakturnya, G.H. Werndly, juga berlayar ke Belanda. Dengan pertolongan Ds. C. G Seruys dari Ambon dan dua pendeta pembantu bangsa Indonesia, ia mengawasi proyek penerbitan yang mahabesar itu.

Perjanjian Baru keluar pada tahun 1731. Seluruh Alkitab menyusul dua tahun kemudian. Barulah terbit pada tahun 1758 edisi yang berhuruf Arab, dalam bentuk lima jilid yang tebal. Edisi huruf Arab itu dicetak di Jakarta, karena dianggap terlalu mahal di Belanda.

Jadi, pada tahun 1733 muncullah Firman Allah yang lengkap dalam bahasa Melayu. Terjemahan Leydekker itu diterima dengan gembira. Lama sekali versi itu lebih disukai daripada yang lain-lain, bahkan mengungguli yang lebih baru dan lebih mudah dibaca. Masih dalam abad ke20 ini ada cetakan ulang dari Alkitab Leydekker, atas desakan jemaat-jemaat di Ambon. Bahkan hingga kini belum ada satu terjemahan Alkitab yang lebih banyak mempengaruhi pikiran dan perbendaharaan kata umat Kristen Indonesia daripada Alkitab karya Melchior Leydekker.

Tidaklah mengherankan bahwa versi Leydekker itu dianggap sebagai suatu pusaka rohani yang tak ternilai harganya. Dalam tahun 1950an, ketika almarhum Presiden Sukarno mengadakana kunjungan resmu ke Ambon, kepala negara itu dihormati dengan persembahan sebuah Alkitab Leydekker dari cetakan pertama, sebagai ciri khas suku Maluku. Dan Lembaga Alkitab Indonesia pernah menolak tawaran empat juta rupiah dari seorang direktur musium yang mau membeli Alkitab Leydekker cetakan 1801 milik LAI itu.

Doa Bapa Kami dalam terjemahan M. Leydekker (1701, 1731, 1733) berbunyi sebagai berikut:

“Bapa kamij jang ada disawrga,
namamu depersutjilah kiranya.
Karadjaanmu datanglah.
Kahendakhmu djadilah,
seperti didalam sawrga,
demikijenlah diatas bumi.
Rawtij kamij saharij berilah
akan kamij pada harij ini.
Dan amponilah pada kamij
segala salah kamij,
seperti lagi kamij ini mengamponij
pada awrang jang bersalah kapada kamij.
Dan djanganlah membawa kamij kapada pertjawbaan,
hanja lepaskanlah kamij deri pada jang djahat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *